Meleburnya Semua Rasa

 


Kisah eskim kali ini tentang melebur. 

Perkataanya selalu meyakinkan eskim, awalnya. 

Perbuatannya selalu meyakinkan eskim, awalnya. 

Tapi saat eskim sudah yakin, semua berbanding terbalik. 

.

.

     Hari-hari eskim awalnya sangat baik-baik saja. Tetap dingin dan utuh seperti sedia kala. Tapi tetiba ada kawan eskim yang mengatakan akan menemaninya selama didalam ruang pendingin itu mulai membuatnya bimbang dan bahkan sesekali melelehkan dirinya. 

      Eskim berjanji sesuatu pada dirinya, atas banyak hal yang sudah terjadi, dia tak mau ikut merasakan hal yang pernah ia lihat atau alami. Maka ia membentengi diri dengan kotak tebal dan meletakkan diri di ruang terdingin agar takmudah tersentuh. Namun, kawannya membuat ia sedikit menggeser janjinya. Membuatnya berani membuka diri dan keluar dari kotak tebal di ruang pendingin itu. 

           Alhasil selama menjalani proses eskim cukup menikmati. Dia pikir kawannya juga, nyaman sepertinya. Ia menarik kawannya untuk ikut masuk ke kotak tebal di ruang pendingin miliknya supaya kawannya tau bagaimana kehidupannya selama ini. Waktu ke waktu mereka amat dekat dan sepertinya saling terkait. Pikirnya eskim. 

 .

.

    Beberapa lama kemudian eskim mulai merasakan perbedaan dari kawannya. Rasa-rasanya kawannya itu mulai menjauh dari kotak miliknya, sepertia ia akan meninggalkannya. Begitulah feeling eskim saat ini. Hingga eskim tersadar akan kenyataan bahwa ia hanyalah sebuah eskrim yang baru di temui kawannya itu. Dia bisa saja digantikan sosok lain yang mungkin lebih cocok dengan kawannya. 

          Eskim lupa, ada banyak variabel lain diluar dirinya dan kawannya. Ada tangan pemilik yang bisa saja mengambilnya sewaktu-waktu tanpa dimintanya untuk diberikan ke orang lain. Hal ini membuat eskim semakin meleleh karena kepanasan berpikir. Ia juga tersadar setelah mendengar perkataan temannya suatu hari "tidak berhasil juga adalah hasil dari sebuah proses, dan harus diterima". 

            Eskim terus berpikir sendirian, dia mencoba menerka apa yang dialami kawannya tapi nihil. Tak dapat ia temukan alasan tepatnya. Hingga tiba masa eskim semakin mencair melebur semua rasa pada dirinya. Dan ia adukan pada pemiliknya, bahwa ia ikhlas dan ia berpasrah pada apapun hasil yang akan didapat. 

Mulai hari itu eskim kembali mengumpulkan rasa yang telah melebur menjadi satu, menutup lagi pintu pendingin yang sudah menganga, dan menitipkan semua rasa yang dimilikinya kepada sang pemilikNya. Ia juga mulai menjaga lagi agar tidak sembarang menerima janji. Agar tidak sembarang memasukkan kawan ke lingkungannya lagi agar kejadian itu tak terulang untuk kedua kalinya. 

Dari kejadian ini eskim mendapat pembelaajran hidup: 

  • Titipkan semua rasa pada pemilik jika belum saatnya tiba
  • Kalau belum pasti jangan mencoba
  • Tetap yakin pada pendirian dan janji diri 
  • Kalau memang sudah di takdirkan sang pemilik apapun hasilnya harus terima 
  • Kegagalan juga sebuah hasil dari proses menuju pencapaian
  • Jangan memaksa kehendak dan merusak diri sendiri. Stop bermain-main dan fokus lagi pada jalan yg dipilih dan diri sendiri. 
  • Jangan sampai kehilangan rumah (diri sendiri) hanya karena sudah menerima dan bergantung pada orang lain. 

Jakarta, 4 Juli 2024


Komentar