Hari itu eskim tampak letih dan ketakutan, ia sedang berada dalam perjalanan panjang menuju sebuah tujuan yang amat ia impikan.
Katanya dalam hati: "Betapa, mereka yang punya banyak teman seperjalanan amat mudah dan indah dipandang."
Selama perjalanan itu, ia terus mengeluh dalam hati, dan selama perjalanan itu pula ia tak henti terus mencaci diri sendiri.
Kenapa sih aku harus gini,
Kenapa sih harus melalui jalan ini,
Kenapa sih aku hanya sendiri,
bla.. bla.. bla
Hingga sampai pada titik, saat ia berhenti di atas aspal dibawah langit dengan cuaca yang amat panas terik menyilaukan mata. Ia tersadarkan oleh perubahan iklim yang terjadi seiring berjalannya waktu.
Diperjalanan sebelumnya, ia terus mengoceh tak henti memanaskan diri sendiri dikala iklim sejuk dan biasa. Tak berefek banyak bagi dirinya. Namun, saat suhu meningkat. Ketika ia masih terus mencela dan mengeluh terjadilah kepanasan yang berkali-kali lipat.
Bukan hanya kepanasan dari fisik yang dirasa, melainkan dalam hati dan fikiranpun menjadi panas tak berujung. Lalu ia tersadar dengan apa yang ia alami. Ternyata segala apa yang ia lakukan selama ini rupanya adalah sebuah keburukan yang tak nampak, lantaran tertutupi kebaikan dari Tuhan. Amat terasa keburukan itu, bagi dirinya setelah Tuhan mencabut Nikmat Kebaikan padanya.
Mulai saat itu, ia menyadari bahwa setiap keluhan, cibiran, cacian, hinaan terhadap diri sendiri tak menjadikan dirinya baik justru menghancurkan dari dalam memanaskan dirinya yang semula sejuk.
Lalu Ia berazzam untuk terus melanjutkan perjalanan menuju impian dengan penuh kesabaran, dan banyak perenungan. Agar semakin Tuhan memandang dan memudahkan dirinya, dengan segala tujuan yang segera ingin ia selesaikan.
#Eskim
#CeritaKehidupan
By: ~aif

Komentar
Posting Komentar