Projek Literasi

MY PROJECT

One Month One Book and One Resume (OMOBOR)



Judul      : Terapi Maknawi dengan Resep Qur'ani
Penerbit : Risalah Nur Press
Tempat / Tahun terbit : Banten/2014
Ukuran / hlm : 13 × 19 cm/ 88 hlm

Penulis : Badiuzzaman Said Nursi

Resume Buku

  Buku ini berisikan tentang Resep Pengobatan dengan berlandaskan pada Al-Qur'an yang di tuliskan oleh Ulama Besar Turki yakni Badiuzzaman Said Nursi, merupakan terjemahan dari karya beliau yg berjudul Risalah ilâ kulli Marîd wa Mubtada.  Dalam buku ini juga di sampaikan keteladanan dari Nabi Ayyub a.s. dalam menghadapi musibah penyakitnya dalam 5 nuktah. Serta resep pengobatan Penyakit Was-was yang sering kita alami. 

  Dalam menghadapi setiap penyakit, musibah atau kesulitan hidup terkadang kita sebagai manusia sering kali mengeluh pada keadaan yang dialami, mengeluh pada  takdir yang terjadi, mengeluhkan musibah yang datang menghampiri, bahkan sampai menyalahkan Tuhan mengapa semua sampai terjadi. 

  Namun, dalam buku ini kita akan mengetahui berbagai resep penting terdapat 25 obat yang disampaikan Ulama Badiuzzaman dalam menghadapi musibah atau penyakit yang kita hadapi. Dengan bahasa yang ringan dan dengan berbagai perumpamaan yang mudah dimengerti. Akhirnya pembaca akan menyadari bahwa dibalik sebuah musibah atau penyakit yang menghampiri, ada banyak kebaikan yang seharusnya justru kita syukuri. 

     Dari banyaknya perkataan luar biasa Beliau, ada beberapa perkataan yang ingin saya sampaikan dari buku ini. Diantaranya pada Bab Menghayati Keteladanan Nabi Ayyub a.s, nuktah kelima. 
"Dalam munajatnya, Nabi Ayyub a.s. tidak berdoa untuk kenyamanan dirinya. Akan tetapi, ia memohon kesembuhan kepada Allah ketika penyakit telah menghalangi lisannya untuk berdzikir dan qalbunya untuk bertafakkur. Ia memohon kesembuhan agar bisa melakukan tugas-tugas ubudiyah dengan penuh ketulusan."

"Adapun keluhan yang mengisyaratkan penolakan dan keberatan atas qadha dan qadar-Nya, ia persis seperti mengkritik ketentuan ilahi yang adil dan meragukan rahmat-Nya yang amat luas. Dan siapa pun yang mengkitik takdir-Nya akan terkapar oleh takdir itu sendiri, dan yang meragukan rahmat Allah akan terhalang dari rahmat itu. Sebab, sebagaimana menggunakan tangan yang patah untuk membalas dendam akan memperparah kondisinya, demikian pula menghadapi musibah dengan keluh kesah, kerisauan, kritikan, dan kegelisahan akan melipatgandakan musibah tersebut."

      Sebagai manusia seringkali kita meminta kesembuhan agar dipermudah dalam menjalani kehidupan keduniaan seperti sedia kala. Padahal jika kita melihat bagaimana permohonan Nabi Ayyub a.s meminta kesembuhan supaya dipermudah dalam menjalankan ibadah Kepada Allah. Sungguh sangat malu, dan merasa sangat kerdil keimanan kita. Keegoisan dan ketamakan pada hal keduniawian kadang membuat kita lupa bahwa kita hanya sebagai tamu di dunia ini, karena rumah kekal kita adalah akhirat. 

     Untuk itulah buku ini sangat berguna sebagai pengingat kita bagaimana menghadapi musibah dengan sikap yang sebaik-baiknya. Juga untuk mengingatkan kita bahwa musibah, sakit ataupun takdir dari Allah adalah yang terbaik untuk kita. Jangan sampai menjadikan sakit sebagai ladang kita berkeluh kesah dengan takdir-Nya. 

      Karena dalam buku ini dijelaskan banyak hikmah kebaikan dari musibah, penyakit dan takdir yang menurut kita buruk tapi ada banyak kebaikan yang sebenarnya terjadi bagi kita. Misalnya saja dalam buku ini disampaikan bahwa dari sakit yg dihadapi membuat kita kembali menyadari kealpaan diri dari kedekatan kita kepada Allah melalui ibadah, akhirnya dengan diberikan musibah membuat kita kembali sadar atas kealpaan yang terjadi. Membuat kita kembali mengingat posisi diri sebagai hamba-Nya, senantiasa berdzikir, beribadah dalam kondisi yang sangat kecil dan lemah tersebut. 

    Juga menyadari betapa kebaikan Allah luar biasa, jika biasanya kita akan jarang istirahat lantaran jadwal kegiatan yang padat. Maka dengan diberikannya rasa sakit memberikan kesempatan  pada tubuh kita untuk beristirahat sejenak dari kegiatan yang begitu menyibukkan. 

Karena sejatinya, kita bukanlah penduduk kekal di dunia ini, maka persiapkanlah segala kondisi yang mungkin terjadi. Jangan mudah terbuai dengan hal yang membuat lalai diri. Dan jangan pernah menyalahkan setiap takdir yang datang menghampiri, karena kita percaya pada Allah Yang Maha Mengetahui pasti ada banyak hikmah yang akan memberkahi. Semangattt selalu ♥️
~aif

#Semangat
#MembacaMenghayatiMeneladani
#SalamLiterasi

Komentar